Jumat, 13 Desember 2019

MENGENAL BATIK PEDALAMAN DAN BATIK PESISIR - SOLO

LIPUTAN UMUM


MENGENAL BATIK PEDALAMAN DAN BATIK PESISIR



Salah kostum bukanlah hal yang lumrah bagi sebagian besar masyarakat. Pakaian memiliki kesannya seendiri, salah satunya ialah kain batik. Setiap motif memiliki makna tersendiri. Misalnya, dalam acara besar seperti pernikahan, orang akan menggunakan motif-motif yang lebih berani dengan warna yang mencolok. Hal ini berbeda saat kita menghadiri takziah, orang cenderung menggunkan motif-motif yang sederhana dengan warna dasar kalem yang dipilihnya

Adapun, secara garis besar, batik di tanah Jawa dibedakan menjadi 2 jenis, yakni batik pesisir dan batik pedalaman. Batik pesisir banyak dihasilkan di wilayah-wilayah yang berada di tepi pantai sedangkan batik pedalaman merupakan ragam busana batik yang dihasilkan di wilayah-wilayah di daratan, terutama di pusat-pusat peradaban Jawa, yakni istana yang diwakili oleh Surakarta dan Yogyakarta.
  Seperti yang telah dibahas diawal, batik pedalaman merupakan batik yang dihasilkan di lingkungan keraton, pemakaian ragam busana batik memiliki aturan khusus yang terkait dengan adat dan tata sopan santun di kalangan istana. Busana batik yang dikenakan oleh Raja dan keluarga inti istana, misalnya, tentu saja tidak sama dengan budana batik yang dipakai oleh para abdi dalem kerajaan

  Corak motif batik yang berasal dari Keraton pada umumnya memiliki maksud khusus yang ingin disampaikan oleh pembuat motif batik tersebut kepada masyarakat luas. Sedangkan motif batik yang mereka buat jarang memiliki makna dan juga tidak memiliki aturan yang harus dipatuhi ketika membuat baju batik dengan motif-motif yang mereka inginkan

  “Biasanya warna batik keraton itu lebih dominan dengan warna coklat kemerahan, biru, hitam. berbeda dengan batik pesisir warna motif yang digunakan lebih beragam mbak seperti hijau, biru, merah kuning warna-warna ngejreng begitu.” tutur Putra Dwipa (20th) pedangang batik di BTC Solo.

  Batik pesisir yaitu batik yang berkembang diluar keraton. Dalam sejarah batik pesisir, seperti batik pekalongan, batik tegal, batik indramayu, dan batik ceribon penyebarannya ke selatan, seperti kerawang, ciamis, tasikmalaya dan garut. Hampir secara keseluruhan, pola batiknya mengambil pola hias pada keraton ceribon.

   “Untuk persebaran di Surakarta sudah luar sekali, misal mbak mau cari batik motif keraton ya ke Kauman, Danar Hadi, Laweyan” Susi (44th) pedagang batik di Pasar Klewer.

   Seperti tutur Susi, 44th persebaran batik di Surakarta sudah sangat luas, mengingat Surakarta dikenal dengan surganya wisata batik. Batik-batik dengan motif keraton dengan mudah didapatkan di Kampung Batik Laweyan, Kampung Batik Kauman, House of Danar Hadi atau Lumbung Batik. Sedangkan batik dengan motif pesisir mudah sekali didapatkan di BTC (Benteng Trade Center), PGS (Pusat Grosir Solo), dan Pasar Klewer.







LIPUTAN KHUSUS


METAMORFOSIS BATIK
Apa yang terbesit di balik kata batik? Batik sangatlah identik dengan budaya ciptaan masyarakat Jawa. Batik juga erat hubugannya dengan busana kebesaran orang keraton, atau mungkin disandingkan dengan nama besar Jogja dan Surakarta. Dewasa ini batik di luar keraton, yakni kampung batik Kauman bertransformasi menjadi seni terapan yang kreatif. Dulu, batik hanya dijumpai sebagai jarit yang digubah menjadi pakaian tradisional. Pada masa kini, banyak produk industri kreatif yang berkolaborasi dengan batik. Dalam dunia fesyen, batik adalah bakal yang mampu disulap menjadi pakaian yang kekinian yang mengundang perhatian generasi muda. Banyak butik batik dan kafetaria menarik yang mengisi sudut-sudut kampung batik Kauman.
Oleh seniman kampung batik Kauman, batik di luar keraton dilahirkan kembali dalam wujud kreatif bernilai seni dan ekonimi tinggi. Sebagaimana yang kita jumpai, batik dikreasikan menjadi tas, sepatu, bantal, gantungan kunci, menjadi hiasan dinding rumah dan sebagainya. Wujud kreasi batik-batik yang ada di luar keraton memberikan gairah sekaligus warna di Kauman. Kehadiran batik di luar keraton menjadi wujud semangat yang terbarukan. Esensi batik adalah bukan lagi sebagai kain yang menjadikan masyarakat Jawa terbagi dalam kamar-kamar kasta.Batik membawa pesan yang beragam, tidak hanya kesan orang berbudaya dan sakral. Jauh dari kesan tersebut, lahir batik yang bermakna lebih bebas, dan dinamis. Pemaknaan tersebut muncul karena batik tumbuh dan besar di balik tembok tebal keraton. Tak ada tatanan keraton yang mampu membatasi ruang gerak batik untuk bermetamorfosis











LIPUTAN KHUSUS
Mengulik lebih dalam Wastra Batik Ndalem Kasunanan Surakarta
Ingin tahu lebih jauh ageman yang dipakai di dalam Keraton Surakarta? Simak penjelasan berikut!


Pakem akan sarat makna spiritual, batik Keraton dihubungkan dengan corak larangan. Sebagai penentu kasta, corak tersebut hanya digunakan raja beserta keluarga dekatnya.
Di Keraton Surakarta, peraturan tersebut diumumkan pertama kali melalui maklumat ‘Sunan Solo’ pada tahun 1769, 1784, dan 1790. Isi maklumat menyebutkan beragam corak, seperti sawat, parang rusak, cemukiran, dan udan liris.
Wastra batik selalu menampakkan keindahan abadi dan nilai-nilai yang erat kaitannya dengan latar belakang penciptaan, penggunaan, maupun penghargaan sang pemakai. Sehingga, batik menjadi simbol atau identitas.
Lingkup Keraton memiliki aturan khusus tentang pemakaian batik. Selain didasarkan pada status sosial atau kasta, pemakaian batik juga berpatokan pada suatu acara yang digelar. Terlihat dalam konteks “acara khusus” dimana batik yang digunakan haruslah berhubungan dengan harapan atau berkah yang disimbolisasi lewat desain batik.
Desain batik Kasunanan Surakarta dihubungkan dengan kultur Hindia-Jawa. Terlihat dalam ragam desain Parang Barong, Parang Curiga, Parang Sarpa, Ceplok Burba, Ceplek Lung Kestlop, Candi Luhur, Srikaton, dan Bondhet.
Awalnya pembuatan batik Keraton dibuat khusus untuk keluarga raja yang dilakukan oleh putri-putri Keraton, namun seiring kebutuhan yang meningkat diatasi dengan pembuatan batik di luar Keraton, salah satunya di Kauman. Soim, Bendahara Paguyuban Kampung Batik Laweyan, mengatakan bahwa secara umum perbedaan mendasar batik hanya pada warna, batik Keraton cenderung pakem,” katanya, Minggu (13/10).
Ciri khas batik Keraton Surakarta, antara lain: memiliki kejenuhan isen halus, tambalan, meredamnya dengan keindahan keseluruhan yang besar, warna-warna yang dipilih lembut dengan paduan harmonis. Adapun dari segi corak, batik Keraton cenderung simbolis statis dan magis dengan jumlah warna yang terbatas pada cokelat soga dan biru nila di atas latar putih atau putih gading.
Berikut motif batik sesuai protokoler Keraton Surakarta:


(1)     Batik Parang Rusak
Motif ini dipakai oleh bangsawan yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati (KGPAA), Pangeran Putra, Pangeran Sentana dan Sentana dalem yang berpangkat bupati riya nginggil yang bergelar Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH).

(2)     Batik Udan Liris
Motif batik ini dipakai oleh pepatih dalem.

 
(3)     Batik Rejeng
Motif ini dikenakan para komandan prajurit dan duta keraton.


(4)     Batik Tambal Kanoman
Motif ini dikenakan sebagai Batikan Kampuh “Dodotan” para Bupati dan seragam Bupati Anomserta juru tulis kantor di lingkungan Kabupaten.


(5)     Batik Semen Latar Putih
Motif ini dipakai oleh Abdi dalem berpangkat Bupati (Bupati Anom dalam dan luar).


(6)     Batik Padas Gempal
Motif ini dipakai oleh Abdi dalem berpangkat Panewu atau Mantri dari golongan Sorogeni kebawah.



(7)     Batik Medhangan
Motif ini dipakai oleh para Panewu atau Mantri ke bawah dari golongan.



(8)     Batik Kumitir
Motif ini digunakan oleh para Panewu atau Mantri ke bawah dari golongan kanoman.


(9)     Batik Tambal Miring
Motif ini dipakai oleh para Abdidalem yang berpangkat Panewu atau Mantri dari golongan Juru Tulis.



(10)   Batik Jamblang

Motif ini dipakai oleh para Panewu/Mantri ke bawah dari golongan kadipaten Anom.


(11)          Batik Ayam Puser
Motif ini dipakai oleh Abdi dalem yang berpangkat Panewu atau Mantri ke bawah (dari golongan Yogeswara/ Suranata/ Abdi dalem Ulama)


(12)      Batik Slobag
Motif ini di gunakan para Abdi dalem Panewu/ Mantri ke bawah (dari golongan niyaga atau penabuh gamelan).


(13)      Batik Wora-wari Rumpuk
Motif ini digunakan para Abdi dalem Panewu/ Mantri ke bawah (golongan Pangrehpraja atau yang membawahi wilayah).


(14)      Batik Krambil Secukil
Motif ini digunakan para Abdidalem Panewu/ Mantri ke bawah (di bawah perintah Kepatihan).


(15)      Kain Lurik Perkutut
Kain Lurik Perkutut ialah kain yang dipergunakan sebagai bahan baju Abdi dalem berpangkat Jajar Priyantaka.


(16)      Kain Sindur
Kain Sindur (bukan batik) yaitu kain yang dipergunakan Abdi dalem Krisdastawa atau Canthang balung.



 Sumber pendukung:
 https://infobatik.id




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GRUB WHATSAPP MENGHANTUI GURU-GURU

Zaman semakin canggih, mencari informasi dan memberi informasi dapat dengan mudah dilakukan melalui media sosial karena ce...