Dalam film pendek yang berjudul HARI-HARI OMONG KOSONG yang diunggah oleh JogloTV dipublikasikan
pada 7 Februari 2013 menceritakan mengenai perjalanan karir Harmoko
semasa pemerintahan orde baru sewaktu Harmoko masih menjadi wartawan
sampai . Terdapat 4 (empat) narasumber dalam film pendek ini, yakni (1)
Eko Mariyadi (item) berprofesi sebagai wartawan lepas dan pengurus
Aliansi Jurnalis Independen, item pernah difonis 3 tahun penjara karena
menerbitkan majalah independen tanpa ijin departemen penerangan "saya
menutup kalimat pledois saya itu dengan ucapan prekedel buah kedondong,
jangan main beredel dong!". (2) Bondan Winarno, ia merupakan wartawan
yang membongkar skandal penipuan sebuah perusahaan tambang emas asal
Kanada di Kalimantan Timur. (3) Aristides Katoppo, pada tahun 1986
Departemen penerangan menutup Sinar Harapan karena memberitakan bisnis
keluarga cendana. (4) Akhmad Kusaeni, dari kantor berita antara
ditugaskan untuk meliput kegiatan menteri penerangan Harmoko setiap
sabtu dan minggu.
Harmoko
dizamannya merupakan bintang media setiap hari koran dan televisi tak
henti-hentinya memberitakan aktivitasnya baik sebagai menteri keuangan
maupun ketua umum golkar. Harmoko menjabat sebagai menteri penerangan
selama tiga periode sejak 1983-1997, ditangannyalah Surat Izin Usaha
Penerbitan Pers (SIUPP) dibatalkan. Inilah yang menentukan hidup-matinya
media masa kala itu, tercatat kurang lebih 13 media massa yang dicabut
surat ijinnya pada periode 14 tahun kepimpinan Harmoko pada Departemen
Penerangan. Pada 1992 Soeharto menunjuk Harmoko sebagai satu-satunya
orang sipil pertama yang menjadi ketua umum Golkar. Dari hasil keliling
Indoensia yang ditemani oleh Akhmad Kusaeni, Harmoko meyakinkan Soeharto
bahwa rakyat masih menginginkannya sebagai Presiden RI untuk periode
ke-tujuh.
Pada
pertengahan tahun 1997 Soeharto tiba-tiba mengakhiri tiga periode
kekuasaan Harmoko di departemen penerangan, ia kemudian mendudukin
jabatan sebagai Menteri Negara Urusan Khusus sebuah kementrian baru yang
tak jelas benar apa tugas dan fungsinya, namun tak lama kemudian di
akhir tahun 1997 Soeharto menunjuk bekas pembantunya yang loyal itu
diangkat sebagai ketua Dewan Perwakilan Rakyat sebagai lembaga tinggi
negara. Tidak ada yang menyangka bahwa palu sidang yang patah ditangan
Harmoko saat penutupan paripurna kelima pada Maret 1998 menjadi buruk
setelah dua bulan berikutnya, dan pada suatu titik Harmoko membuat
keputusan dan memilih jalannya sendiri pada 18 Mei 1998 Harmoko
mengundurkan diri disusul oleh mundurnya Soeharto dari jabatan sebagai
Presiden RI pada 21 Mei 1998.
Bersama
runtuhnya masa rezim baru itu Harmoko yang pernah sekolah dalang di
Solo, menghilang dari pandangan publik. Hingga suatu hari ia mengijinkan
tim JogjaTV meliput kesehariannya kini dan bercengkerama mengenai
masalah-masalah yang ada pada jamannya dulu.