Jumat, 08 Maret 2019

Perjalanan HARMOKO (Hari-hari Omong Kosong)

Dalam film pendek yang berjudul HARI-HARI OMONG KOSONG yang diunggah oleh JogloTV dipublikasikan pada 7 Februari 2013 menceritakan mengenai perjalanan karir Harmoko semasa pemerintahan orde baru sewaktu Harmoko masih menjadi wartawan sampai . Terdapat 4 (empat) narasumber dalam film pendek ini, yakni (1) Eko Mariyadi (item) berprofesi sebagai wartawan lepas dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen, item pernah difonis 3 tahun penjara karena menerbitkan majalah independen tanpa ijin departemen penerangan "saya menutup kalimat pledois saya itu dengan ucapan prekedel buah kedondong, jangan main beredel dong!". (2) Bondan Winarno, ia merupakan wartawan yang membongkar skandal penipuan sebuah perusahaan tambang emas asal Kanada di Kalimantan Timur. (3) Aristides Katoppo, pada tahun 1986 Departemen penerangan menutup Sinar Harapan karena memberitakan bisnis keluarga cendana. (4) Akhmad Kusaeni, dari kantor berita antara ditugaskan untuk meliput kegiatan menteri penerangan Harmoko setiap sabtu dan minggu.
Harmoko dizamannya merupakan bintang media setiap hari koran dan televisi tak henti-hentinya memberitakan aktivitasnya baik sebagai menteri keuangan maupun ketua umum golkar. Harmoko menjabat sebagai menteri penerangan selama tiga periode sejak 1983-1997, ditangannyalah Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) dibatalkan. Inilah yang menentukan hidup-matinya media masa kala itu, tercatat kurang lebih 13 media massa yang dicabut surat ijinnya pada periode 14 tahun kepimpinan Harmoko pada Departemen Penerangan. Pada 1992 Soeharto menunjuk Harmoko sebagai satu-satunya orang sipil pertama yang menjadi ketua umum Golkar. Dari hasil keliling Indoensia yang ditemani oleh Akhmad Kusaeni, Harmoko meyakinkan Soeharto bahwa rakyat masih menginginkannya sebagai Presiden RI untuk periode ke-tujuh.
Pada pertengahan tahun 1997 Soeharto tiba-tiba mengakhiri tiga periode kekuasaan Harmoko di departemen penerangan, ia kemudian mendudukin jabatan sebagai Menteri Negara Urusan Khusus sebuah kementrian baru yang tak jelas benar apa tugas dan fungsinya, namun tak lama kemudian di akhir tahun 1997 Soeharto menunjuk bekas pembantunya yang loyal itu diangkat sebagai ketua Dewan Perwakilan Rakyat sebagai lembaga tinggi negara. Tidak ada yang menyangka bahwa palu sidang yang patah ditangan Harmoko saat penutupan paripurna kelima pada Maret 1998 menjadi buruk setelah dua bulan berikutnya, dan pada suatu titik Harmoko membuat keputusan dan memilih jalannya sendiri pada 18 Mei 1998 Harmoko mengundurkan diri disusul oleh mundurnya Soeharto dari jabatan sebagai Presiden RI pada 21 Mei 1998.
Bersama runtuhnya masa rezim baru itu Harmoko yang pernah sekolah dalang di Solo, menghilang dari pandangan publik. Hingga suatu hari ia mengijinkan tim JogjaTV meliput kesehariannya kini dan bercengkerama mengenai masalah-masalah yang ada pada jamannya dulu.


link video HARI-HARI OMONG KOSONG : https://www.youtube.com/watch?v=ih8vcQWrz1Q

GRUB WHATSAPP MENGHANTUI GURU-GURU

Zaman semakin canggih, mencari informasi dan memberi informasi dapat dengan mudah dilakukan melalui media sosial karena ce...